Karena Dia Bukan Kamu
(Oleh : Dyah
Ayu Lestyani)
Kriing…….kring….kring…
. Alarm jam berbunyi. Vira si gadis tomboy, menatap layar HP nya yang
menunjukkan pukul 03.30 pagi. Dia segera bersiap-siap untuk berangkat sekolah.
Sekolah nya memang berada di luar kota dan butuh waktu 2 jam untuk sampai di
sekolah dengan bus. Dia sengaja tidak kost karena ibunya sendirian di rumah.
Semenjak Ayahnya meninggal, dia harus pulang-pergi dari Tuban ke Bojonegoro
untuk sekolah. Setiap hari pukul 04.30 Vira berangkat ke sekolah dengan bus
WIDJI langganannya.
Sepulang
sekolah, saat bus langganannya tiba, dia segera naik dan duduk. Siang itu dia
duduk di sebelah Yogie, teman SMP nya dulu. Mereka tak saling mengetahui bahwa
mereka bersekolah di sekolah yang sama yakni SMAN 4 BOJONEGORO (SMAPA).
“Hai
Vir, kamu sekolah di SMAPA juga?” Tanya Yogie sambil menepuk pundak Vira.
“Hah?
Iya. Lho kamu juga di SMAPA?” Jawab Vira
yang agak terkejut.
“Iya
aku di SMAPA. Aku di kelas XII IPA 8. Kamu vir?”
“oh..pantesan
gak pernah ketemu, jauh sih kelas nya. Aku di XII IPS 5 di ruang atas”.
Mereka berbincang-bincang hingga bus mulai
masuk daerah Tuban.
“Vir, kamu gak pernah berubah ya. Tetep tomboy
kayak SMP dulu hehehe nomor HP mu dong?”
goda Yogie.
“Hehehe iya nih tetep kayak gini. Nih nomor ku
089638107902”.
Tak
berapa lama kemudian Vira turun di Halte utama.
Semenjak
pertemuan itu,mereka sering sms’an dan berangkat sekolah bersama dengan bus
langganan mereka. Saat istirahat, Yogie
menuju kelas Vira.
“Hm.. gini Vir, ayahku kan kerja di
Bojonegoro, nah motornya disuruh bawa pulang aku. Gimana kalau nanti pulangnya
kamu bareng aku?”.
Entah
mengapa detak jantung Vira menjadi berdebar, dia merasakan sesuatu yang
berbeda. Vira mengangguk. Sepulang sekolah, mereka berjalan menuju tempat kerja
Ayah Yogie. Yogie mengambil motor dan memboncengkan Vira untuk pulang bersama. Di
tengah perjalanan, hujan mengguyur.
“Yog,
berteduh dulu, bahaya, gak kelihatan jalannya”
Yogie
menghentikan motor di sebuah teras toko yang sedang tutup. Saat Vira menengok
ke kiri,ke arah mereka akan melanjutkan perjalanan, Yogie berbisik di telinga
Vira dengan sangat lembut.
“Love
you..”
Vira
tak mendengar, namun ia merasakan hembusan nafas Yogie di samping telinga nya,
saat ia menoleh ke arah Yogie, Yogie berpura-pura melihat pepohonan di depan
toko itu. Setelah hujan reda, mereka melanjutkan perjalanan pulang.
Sesampainya
di rumah, Yogie gelisah. Dia merasakan ada yang berbeda. Dia merasa sangat
senang bisa pulang berdua dengan Vira. Dia sadar,dia telah jatuh hati pada si cewe
tomboy yaitu Vira. Begitu juga dengan Vira. Dia senyum-senyum sendiri di kamar
sambil mengingat wajah Yogie.
Beberapa
hari kemudian,saat Vira duduk di depan rumah,tiba-tiba ia menerima pesan dari
Yogie
“Aku ingin ke pantai sama kamu. Bisa?”.
Sambil tersenyum, vira menjawab “PASTI”.
Segeralah
Vira mempersiapkan diri. Kali ini dia sedikit berubah, dia agak berpenampian
feminine. Itu karna dia ingin tampak berbeda di mata Yogie. Setelah Yogie datang
menjemput, mereka pergi ke pantai. Pantainya memang tak jauh dari rumah Vira.
Sesampainya di pantai,mereka berbincang-bincang. Dan tiba-tiba…..
“Vir,kamu mau jadi pacarku?”.
Vira
yang agak terkejut menjawab “Hah? Pacar? Serius? Aku kayak gini mau? Aku ga
feminine kayak cewe lain”.
Yogie
dengan tersenyum menjawab “apa adanya kamu, sudah menyempurnakan segala
kekuranganku”.
Vira tersenyum dan mengangguk sambil menjawab
“Iya,aku mau”.
Spontan,
Yogie memeluk erat Vira seolah tak mau terlepas lagi. Yogie mengeluarkan sebuah
kertas dan bolpoin. Yogie menulis :
“
Vira & Yogie. Apa adanya kamu telah menyempurnakan segala kekuranganku.
Kita harus selalu bersama.”
Setelah
itu, Yogie meminta Vira untuk tanda tangan diatas tulisan itu, begitu pula
Yogie. Setelah itu Yogie membentuk sebuah perahu dari kertas itu, dan di
letakkan di tepi pantai agar terbawa ombak. Mereka saling berangkulan sambil
menatap perahu kertas mereka yang berlayar mengikuti ombak.
Mulai saat itu mereka
menjadi sepasang kekasih yang saling mencintai. Tiap hari mereka berangkat
sekolah bersama dengan bus langganan mereka. Karena sangat pagi, angin terasa
sangat dingin. Yogie menggenggam tangan Vira dan meletakkan di dadanya.
“Dingin ini tak kan terasa jika kau ada di
sampingku”. Ucap yogie sembari tersenyum. Beberapa waktu kemudian Yogie
tertidur pulas.
Perjalanan
masih jauh, namun Vira tak bisa tidur seperti Yogie. Vira memandangi wajah
yogie yang begitu indah di matanya. Dia tak menyangka ada lelaki yang mau
mencintainya apa adanya. Tanpa sungkan dengan penumpang lain, Vira mengusap
pipi Yogie dengan begitu lembutnya.
“Jangan pernah tinggalin aku yog, aku sayang
kamu” ucapnya lirih.
Tiba-tiba
“horee kamu sayang sama aku” ucap yogie pada Vira.
“Ah…
kok kamu denger sih? Kamu udah bangun tapi masih tutup mata. Ih curang”
Vira cemberut.
“Jangan cemberut dong, jelek” ejek yogie
sambil mencolek pinggang Vira. Mereka pun tertawa bersama hingga bus berhenti
di sekolah mereka.
Tiap istirahat, Yogie selalu menyempatkan diri untuk ke
kelas Vira. Kadang mereka ke perpus bersama, atau sekedar untuk jalan-jalan
keliling sekolah. Tak pernah ada kata pertengkaran diantara mereka. Tiap hari
minggu, mereka selalu berkunjung ke pantai untuk menghabiskan weekend bersama
Suatu hari saat mereka berangkat bersama, bus langganan
mereka penuh sesak. Merka tak mendapat tempat duduk. Terpaksa mereka berdiri.
Saat berdiri, Yogie tersenyum sambil menatap dalam mata Vira. Bibir Yogie
terlihat mengucapkan kata-kata. Namun karena penuhnya penumpang, Vira tak
mendengar apa yang di ucapkan Yogie.
“Kamu ngomong apa sayang?” tanya Vira.
Yogie
mendekatkan bibirnya di telinga Vira, sembari bernyanyi “Cause your amazing,
just the way you are….”.
Vira
tersenyum dan menjawab “Bruno mars- Just the way you are”.
“Iya, lagu buat kamu” jawab Yogie sambil mengelus
kepala Vira. Vira merasa
beruntung memiliki
kekasih yang sangat mencintainya seperti Yogie.
Vira memang tomboy dengan gaya nya yang cowo abis. Namun
Yogie yang awalnya menerima dia apa adanya, kini mulai berkomentar tentang
penampilan Vira. Dan semenjak itulah Vira mulai mencoba berubah menjadi
selayaknya cewe lainnya yang berpenampilan feminine. Hingga suatu hari Yogie
berkata :
“Kamu
cantik kalau feminine. Aku pengen kamu feminine selamanya”.
Semenjak Yogie berkata seperti itu, Vira mulai
berubah sedikit demi sedikit. Dia berusaha semaksimal mungkin menjadi apa yang
Yogie inginkan karena dia tak ingin kehilangan sosok Yogie yang mendiami
hatinya selama ini. Yogie pun cukup bahagia melihat usaha Vira untuk menjadi
cewe feminine seperti apa yang dia inginkan. Hubungan mereka pun berjalan
hingga bulan ke 3, memasuki bulan Ujian Nasional.
Mulai bulan itulah, mereka mulai tak saling berkomunikasi
karena mereka bersepakat untuk fokus ke UN dulu. Setelah UN selesai, mereka
mendapat pengumuman bahwa sekolah mereka lulus 100% mereka bersorak sorai
dengan seluruh siswa-siswi lain. Mulai hari itulah mereka kembali berkomunikai
seperti biasa hingga tiba di “Hari Perpisahan Kelas XII”. Vira yang sama sekali
tak pernah berdandan, kini berdandan layaknya seorang mahasiswa yang akan di
wisuda. Ia mengenakan kebaya warna merah dengan jilbab yang :serasi serta make
up yang minimalis namun terlihat sangat cantik. Yogie terpesona melihatnya.
“Cantiknya tuan putriku ini…yok ke penghulu
hehe”.
Mendengar
gurauan Yogie, Vira hanya tersenyum dan menggandeng Yogie menuju belakang
panggung. Hingga acara selesaipun mereka selalu bersama.
Tanpa Vira sadari, hari perpisahan sekolah pun menjadi
awal perpisahannya dengan Yogie. Mulai saat itu, Vira disibukkan oleh tes masuk
perguruan tinggi. Begitu juga Yogie yang di sibukkan oleh tes kerja di
pertambangan Kalimantan. Setelah Vira dinyatakan lolos tes perguruan tinggi di
Surabaya, dan Yogie di terima di Pertambangan Kalimantan, dia mulai di sibukkan
oleh tugas-tugas kuliah. Yogie juga tak ada waktu untuk berkomunikasi dengan
Vira. Hanya tiap malam saja Yogie menelpon Vira. Namun beberapa bulan kemudian,
Yogie tak pernah lagi menelpon Vira. Sms pun tak pernah. Vira mulai curiga. Dia
mencoba menghubungi, namun nomor Yogie tak aktif. Hingga beberapa tahun lamanya,
Vira dan Yogie tak lagni berkomunikasi. Vira mencoba mencari informasi tentang
kabar Yogie. Namun hasilnya nol. Tak seorangpun tau bagaimana kabar Yogie
sekarang. Ingin sekali dia bertanya pada orang tua Yogie, namun Vira tak
berani. Vira pun menyibukkan diri dengan tugas nya agar tak terlalu larut dalam
kesedihan ini. Meski terkadang dia rindu akan sosok Yogie.
Hingga suatu hari setamatnya Vira dari perguruan tinggi,
Vira pulang ke rumahnya Tuban. Ibunya menyambut dengan senangnya dan
menyodorkan sebuah undangan biru yang dibalut pita abu-abu.
“Ini
Vir, ada undangan dari temanmu yang dulu bareng kamu terus”.
Vira
menerima dan mulai membaca undangan itu. Di undangan tertera nama yang sangat
akrab di telinga,mata,bahkan hati Vira. Nama itu “YOGIE”. Yogie akan menikah
besok dengan wanita lain. Bukan dengan Vira. Tubuh Vira terasa lemas,
dijatuhkannya undangan itu. Dia berlari kekamar dan menangis menahan rasa sakit
di hatinya. Penantian atas kabar Yogie selama ini sia-sia. Ternyata Yogie
selama ini menghilang, bukan karena sibuk kerja saja. Tetapi juga karena dia
menemukan wanita lain yang mengisi hatinya. Vira tak tau harus bagaimana lagi
selain menghadiri hari bahagia Yogie, malaikat hatinya.
Keesokan harinya, dengan penuh rasa sakit hati, Vira
menuju ke pernikahan Yogie. Disana dia melihat lelaki yang dia cintai selama
ini bersanding dengan wanita lain. Yogie terkejut melihat kedatangan Vira.
Yogie merasa bersalah, namun dia tak bisa membohongi perasaannya yang lebih
memilih calon istrinya kini daripada Vira.
“Selamat
ya, semoga kamu bahagia. Kenanglah aku sepanjang hidupmu” ucap Vira sambil
menyalami Yogie.
Yogie
menggenggam tangan Vira erat “Semoga saja akan kau dapatkan hati yang tulus
mencintai kamu. Tapi bukan aku. Biarlah ini menjadi kenangan”.
Vira
melepaskan tangan Yogie lalu berlari sambil menangis. Ia pulang dengan penuh
rasa sakit di hatinya. Hari-hari ia lalui tanpa Yogie. Terkadang dia menangis
mengingat semua kenangan Yogie. Hingga suatu hari, dia menemukan lelaki yang
sungguh mencintainya bernama “Adrian”. Karena trauma Vira di masa lalu, mereka
tak mau berlama-lama pacaran. Mereka segera melngsungkan pernikahan. Tak lupa
pula Vira mengundang Yogie. Di acara pernikahan Vira, Yogie datang tanpa
didampingi istrinya. Mungkin dia tak mau istrinya tau akan masa lalunya dengan
Vira.
“Selamat
ya, kamu udah nemuin penggantiku. Semoga selalu bersama. Cintai dia sepenuhnya”
ucap yogie sambil bersalaman dengan Vira.
“Aku
memang mencintainya. Tapi cintaku padanya tak seperti cintaku padamu dulu.
Karena dia bukan kamu…” ucap Vira dengan mata berkaca-kaca.
Mulai saat itulah, Yogie hidup bahagia dengan istrinya.
Di Kalimantan,kota dimana Yogie bekerja. Dan Vira hidup bersama suaminya di Tuban meski
separuh hatinya masih terpendam untuk Yogie. Namun ia mencoba belajar mencintai
Adrian. Vira merobek kertas di mejanya dan menulis. Dia melipat kertas
bertuliskan isi hatinya itu membentuk sebuah perahu. Vira bawa kertas itu ke pantai dimana dia
selalu bersama Yogie. Disana dia hanya sendiri. Dia duduk di tempat dimana
Yogie mengungkapkan perasaannya dulu. Vira melihat bayangan Yogie dan dirinya
di masa lalu. Namun bayangan itu berubah menjadi air mata saat Vira teringat
akan pernikahan Yogie. Ia segera menghapus air matanya dan perahu itu ia
letakkan di bibir pantai lalu terbawa ombak air laut . Ia berharap tulisannya
itu sampai ke tangan Yogie, meskipun itu mustahil. Isi kertas itu adalah :
“Maaf, aku masih mencintaimu. Aku tak bisa
mencintai Adrian seperti mencintaimu dulu. Karena dia bukan kamu….”.
TAMAT



Tidak ada komentar:
Posting Komentar